Rabu, 03 Februari 2016

filsafat aliran syiah

Syi’ah
Pengertian Syi’ah Syi’ah ialah golongan umat Islam yang terlampau mengagungkan keturunan-keturunan Nabi, mereka mendahulukan keturunan Nabi, untuk menjadi khalifah. Syi’ah maknanya ialah sahabat dan pengikut.[1] Syi’ah dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung, kelompok. Yang berasal dari bahasa Arab, kata jamaknya yaitu Syiya’un.[2] Sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad Saw. atau orang yang disebut ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl al-bait atau pengikutnya.[3] Menurut Thabathbai, istilah Syi’ah untuk pertama kalinya ditujukan kepada para pengikut Ali, pemipin pertama ahl al-bait pada masa Nabi Muhammad Saw. Para pengikut Ali pada waktu itu ialah Abu Dzar Al-Ghiffari, Miqad bin Al-Aswad, dan Ammar bin Yasir. Pengertian bahasa dan terminologis di atas hanyalah merupakan dasar yang membedakan antara Syi’ah dengan kelompok Islam lainnya.[4] B. Sejarah Syi’ah Kemunculan syi’ah dalam sejarah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah, syi’ah mulai muncul pada masa pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan menurut Watt, syi’ah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan Ali dan Mu’awiyah yang dikenal dengan perang siffin.[5] Golongan Syiah berpendapat bahwa Ali adalah manusia yang utama berhak mendapat warisan kedudukan sebagai khalifah. Oleh sebab itu ada orang yang berpendapat bahwa golongan Syiah telah ada semenjak meninggalnya Rasulullah Saw. Syiah berpendapat bahwa yang berhak menggantikan Nabi Muhammad saw. setelah beliau wafat adalah keluarganya (ahlul bait). Sedangkan ahlul bait yang mula-mula berhak adalah Ali bin Abi Thalib (saudara sepupunya). Beliau juga sebagai menantu Rasulullah saw. Pada saat terjadinya fitnah besar-besaran atas terbunuhnya Usman, kedok kesektean pun terbongkar, sehingga kelompok orang bergabung dibawah panji’Ali sedangkan kelompok yang lain mendukung Mua’wiyah.[6] Para pendukung Ali segera membentengi, bersatu menghadapi berbagai pertempuran. Sebagai akibat dari pertempuran Siffin yang semakin melebar. Di antara mereka ada yang ke luar dari barisan Ali, itulah kaum Khawarij. Sebaliknya ada pula pihak yang mendukung dan membela Ali. Mereka itu lah benih-benih pertama dari aliran Syi’ah.[7] Walaupun belum dikonfirmasikan bahwa istilah Syi’ah sudah diterapkan pada mereka sejak saat itu. Sementara itu pihak lain begitu setia kepada Ali, karena berpendapat bahwa tak seorang pun yang lebih berhak menjadi khalifah dibandingkan Ali.[8] Syi’ah dan Khawarij, sama-sama merupakan musuh Bani Umayyah yang dengan kejam memerangi mereka. Tidak diragukan lagi bahwa pertempuran Karbala’ dan terbunuhnya al-Husain (61 H) merupakan salah satu peristiwa politik dan spiritual terbesar dalam islam, yang menyulut kobaran api permusuhan di mana jiwa para pendukung kaum Alawiyin sarat dengan dengki dan rasa dendam. Banyak propaganda kaum Abbasiah yang dilakukan di bawah lindungan kaum Alawiyin. Dalam rangka menghadapi pengejaran-pengejaran yang terjadi terus-menerus ini, Syi’ah berpendapat bahwa mereka harus membentengi diri dengan ajaran al-Taqiyyah. Mereka mengadakan kontak dengan berbagai macam kebudayaan, mengambil apa yang perlu, memasukan kedalam ajaran agama yang perlu mereka masukkan. Mereka mampu mengumpulkan sejumlah ajaran dan mendapat yang menjadi landasan kepartaian dan kesektean. Mereka mampu menembus kelemahan Daulah Abbasiah hingga mereka bisa memerintah. Mereka mendirikan negara-negara, baik di Timur maupun Barat, yang sebagai puncak adalah Daulah Fatimah. C. Perkembangan Aliran Syi’ah Dalam perjuangannya, selain memperjuangkan hak kekhalifahan ahl al-bait di hadapan dinasti Ammawiyyah dan Abbasiyah., Syi’ah juga mengembangkan doktrinnya sendiri. Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai lima rukun iman, yaitu tauhid (kepercayaan pada keesaaan Allah), nubuwwah (kepercayaan kepada kenabian), ma’ad (kepercayaan akan adanya hidup di akhirat), imamah (kapercayaan terhadap adanya imamah yang merupakan hak ahl al-bait), dan adil (keadilan Ilahi).[9] Peranan orang Syi’ah di mesir dengan berdirinya kerajaan Bani Fathimiyah (358-367 H/ 969-1171 M). tindasan yang dilakukan terhadap orang-orang Syi’ah sebagai lawan politik Bani Umayah, hal itu diiikuti juga oleh khalifah Bani Abbasiyah.[10] Karenanya, orang-orang Syi’ah melarikan diri ke daerah Afrika Utara, suatu daerah yang cukup jauh dari Baghdad, pusat pemerintahan Bani Abbasiyah dan kebetulan penduduknya membenci gubernur-gubernur yang membebabi pajak yang berat. Pada 288 H/901 M, tampil seorang tokoh Syi’ah Abu Abdillah as-Syi’i, yang tekun berpropaganda, sehingga pengikut Syi’ah semakin bertambah.[11] perkembangan tersebut diiringi kemenangan mereka atas Bani Aghlab di Tunisia. Dengan kemenangannya Ubaidillah al-Mahdi,diangkat sebagai khalifah , berkedudukan di kota al-Mahdiyah. Ia beberapa kali gagal menaklukan Mesir, dia meninggal pada 323 H/935 M. Al-Muiz Lidinillah, putranya, berhasil menaklukan Mesir, di bawah panglima Jauhar, tahun 358 H/969 M. Kabilah-kabilah Bar-bar, daulat Bani Idris di Magribil Aqsha telah ditakhlukan juga, sehingga kekuasaan Bani Fathimiyah ini terbentang luas, dari Tripolia Barat disebelah timur, sampai pesisir laut Atlantika di sebelah barat dan Pulau Sicilia di Laut Tengah. Mesir dijadika pusat pengembangan paham Syi,ah. Doa-doa khotbah Jum’at semua mendoakan khalifah Bani Abbasiyah, diganti dengan mendoakan khalifah al-Muiz Iidinillah.[12] Pada tahun 359 H/970 M dibangun Masjid Jami’ al-Azhar yang dijadikan pusat studi ilmu-ilmu keislaman, kebudayaan, sekaligus pusat pengembangan paham Syi’ah. Di bulan Sya’ban tahun 362 H/973 M, khalifah al-Muiz sampai di pelabuhan Iskandariyah, dan menjadikan Kairo sebagai kota pusat pemerintahannya. Khalifah al-Muiz Ladinillah berusaha keras menyiarkan paham Syi’ah, dilakukan secara berangsur-angsur, hingga hamper-hampir tidak terkesan dan tidak menimbulkan amarah orang-orang Ahlus Sunnah yang merupakn paham terbesar yang diikuti penduduk Mesir. Ditetapkannya Qadhi Ahlus Sunnah, disamping ditetapkannya Qadhi Syi’ah.[13] Akhirnya menjelang tahun 379 H/992 M, seluruh jabatan-jabatan penting di bidang agama, politik, dan kemiliteran dipegang oleh orang-orang Maghribi yang Syi’ah itu. Waktu demi waktu telah dilalui oleh aliran Syi’ah. Sehingga dalam sejarahnya kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Diantaranya yaitu Itsna Asyariyah, Zaidiyah, dan Isma’iliyah.[14] D. Sekte-sekta dalam aliran Syi’ah 1. Syi’ah Imamiyah atau Itsna Asyariyah a. Asal-usul penyebutannya Dinamakan syi’ah imamiyah karena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalam arti pemimpin religio politik, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya karena kecakapannya dalam memimpin, tetapi juga karena ia telah ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.[15] Adapun Abu Bakar dan Umar, adalah orang-orang yang merampas hak Ali sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW.[16] Syiah Imamiyah adalah nama yang dititikberatkan pada pandngannya tentang imamah. Nama Syiah Iman Dua Belas didiriakan atas bilangan iman yang mereka yakini brjumlah dua belas orang imam.[17] Adapun penerrima wasiat setelah Alibin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husen bin Ali sebagaimana yang telah disepakati. Setelah itu Ali Zaenal Abidin, kemudian secara berturut-turut; Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far Ash-Shadiq, Musa Al-kahzim, Ali Ar-rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam kedua belas. Demikianlah, mereka disebut dengan sebutan Syi’ah Itsna Asyariyah.[18] Imam adalah bersih (Ma’sum) dari kesalahan. Ketentuannya tidak boleh ditolak, yang barang siapa memberontak terhadap Imam boleh dibunuh.[19] b. Doktrin dalam Syi’ah Imamiyah 1) Tauhid 2) Keadilan 3) Nubuwwah 4) Ma’ad 5) Imamah 2. Alirah Zaidiyah Disebut Zaidiyah karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai Imam kelima. Kelompok ini berbeda dengan Syi’ah sekte lainnya. Dari nama Zaid bin Ali inilah nama Zaidiyah diambil. Abu Zahra menyatakan bahwa sekte ini merupakan sekte yang paling dekat dengan Sunni.[20] Mereka tidak membenarkan pengakuan sifat-sifat yang berlebih-lebihan atau sifat-sifat khayalan, yang diberikan kepada Ali.[21] Al-Zaidiah adalah para pengikut Zaid (112-741) bin’Ali’ bin Al-Husain yang dikenal sebagai pemberani, berilmu luas dan kuat berargumentasi. Keberaniannya ini mengantarkannya menuju kematian dalam rangka membela dakwahnya.[22] Mayoritas pengikut aliran Zaidiah mengatakan bahwa Allah SWT adalah sesuatu yang tidak seperti sesuatu yang lain; tidak serupa dengan segala sesuatu yang ada.[23] Zaidiyah mengembangkan doktrin imamah yang tipikal. Kaum Zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. telah ditentukan nama dan orangnya oleh Nabi, tetapi hanya ditentukan sifatnya saja. Ini jelas berbeda dengan sekte Syi’ah lain yang percaya bahwa Nabi Muhammad SAW. telah menunjuk Ali sebagai orang yang pantas menjabat sebagai imam setelah Nabi wafat karena Ali memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh orang lain.[24] 3. Syi’ah Isma’iliyah Yaitu yang mengimamkan Isma’il bin Ja’far Ash Shadiq. Mereka mentakwilkan ajaran-ajaran Islam, sekehendaknya saja, jauh dari kehendak Islam. Untuk pemimpin-pemimpin dan kepala-kepala tidak ada kewajiban menjalankan upacara-upacara agama itu. Mereka menganggap ahli-ahli falsafah sebagai Nabi.[25] Syi’ah Isma’iliyah juga disebut syi’ah Sab’iyah. Istlah Syi’ahh Sab’iyah memberikan pengertian bahwa sekte ini hanya mengakuai tujuh Imam, yaitu Ali, Hasan, Husen, Ali Zaenal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq dan Ismail bin Ja’far. Itulah yang membuat sekte ini disebut dengan Syi’ah Sab’iyah.[26] Syiah Ismailiyah berkeyakinan bahwa imamah terjadi atas dasar nash dan penunujukan, dan bahwa imam adalah ma’shum sehingga dengan demikian seorang imam pasti bersih dari dosa dan cela.[27] Tidak diragukan lagi bahwa aliran Ismailiah merupakan sekte Syi’ah yang paling banyak melakukan kajian. Mereka hendak memfilsafatkan ajaran-ajaran mereka. Kemudian mereka memfilsafatkan ajaran-ajaran mereka bersamaan dengan semua akidah Islam. Mereka memasukan pikiran-pikiran asinng antara Timur dan Barat yang mereka ketahui. [28] Filsafat mereka ada bahayanya, sebab tidak hanya berlaku di kalangan orang-orang tertentu saja tetapi sampai juga ke tangan orang awam melalui jalur-jalur yang begitu rahasia dan hendak didektekan kepada kaum muda sejak usia dini. Ini sebagian fisafat yang bersifat merusak menimpakan benih-benih jelek pada akidah Islam, mengakibatkan akidah Islam tertimpa serentetan bencana. Mereka menafsirkan penciptaan dalam interpretasi filosofis yang tidak sejalan dengan ke Mahakuasaan dan ke-Maha Agungan Allah SWT. Jelaslah bahwa kaum Ismailiah, dalam hal ini, sependapat dengan para tokoh filosof illuminasi, yang karenanya serangan dihantamkan kepada mereka semua secara bersama-sama. Mereka meyakini bahwa Wahyu tidak terputus, karena Wahyu merupakan pancaran dari al-Natiq kepada al-was-yu dan para imam.[29] Ajaran Sab’iyah pada dasarnyta sama dengan sekte lain. Perbedaannya terletak pada konsep kemaksuman Imam. Bila dibandingkan dengan sekte Syi’ah lain, Sab’iyah sangat ekstrim dalam menjelaskan kemaksuman imam. Kelompok ini berpendapat bahwa imam walaupun kelihatannya melakukan kesalahan dan menyimpang dari syariat ia tidaklah menyimpang karena mempunyai pengetahuan yang tidak dimliki oleh manusia biasa. Ada satu sekte dalam Sab’iyah yang berpendapat bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri imam. Oleh karena itu, imam harus disembah. Salah satu khalifah Dinasti Fatimiyah, Al-Hakim bin amrillah, berkeyakinan bahwa dalam dirinya terdapat Tuhan sehingga ia memaksa rakyat untuk menyembahnya.[30]


Pengertian Aliran SYI'AH Syi’ah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syi’ah Ali adalah pendukung atau pembela Ali. Syi’ah Mu’awiyah adalah pendukung Mu’awiyah. Pada zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman kata Syi’ah dalam arti nama kelompok orang Islam belum dikenal. Kalau pada waktu pemilihan kholifah ke-tiga ada yang mendukung Ali, tetapi setelah ummat Islam memutuskan memilih Utsman bin Affan, maka orang-orang yang tadinya mendukung Ali, akhirnya berbai’at kepada Utsman termasuk Ali. Jadi, belum terbentuk secara faktual kelompok ummat Islam bernama Syi’ah. Maka ketika terjadi pertikaian dan peperangan antara Ali dan Mu’awiyah, barulah kata Syi’ah muncul sebagai nama kelompok ummat Islam. Tetapi bukan hanya pendukung Ali yang disebut Syi’ah Ali dan Syi’ah Mu’awiyah. Hal itu tercantum dalam naskah perjanjian melaksanakan TAHKIM, di mana disitu diterangkan: bahwa apabila orang yang ditentukan dalam pelaksanaan tahkim itu berhakangan, maka diisi dengan orang dari Syi’ah masing-masing Syi`ah adalah kelompok aliran aqidah yang secara umum menyimpang dari aqidah Ahlussunnah wal jamaah. Di dalam tubuh syi`ah sendiri ada banyak sekte dan pecahan. Diantaranya yang paling terkenal adalah Syi`ah Imamiyah atau Syi`ah imam 12. Penyimpangan Aqidah Meski latar belakang awal mula berdirinya lebih merupakan masalah politis, namun pada perkembangan berikutnya, kelompok Syiah berkembang menjadi sebuah paham aqidah tersendiri yang menyimpang. Penyimpangan itu bila disimpulkan antara lain : Sekte Sabaisme dalam Syiah berkeyakinan bahwa Jibril salah menurunkan wahyu kepada Muhammad, seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka memiliki mushaf Al-Quran versi mereka sendiri yang isinya tidak sama dengan mushaf yang dikenal sekarang ini. Kulaini menjelaskan dalam bukunya ¡°Al-Kafi¡± bahwa Ja`far Shodiq berkata,¡±Kami mempunyai mushaf Fathimah. Sebuah mushaf yang isinya seperti Al-Quran kalian 3 kali. Demi Allah, tidak ada satu huruf pun isinya dari Al-Quran kalian¡±. Mereka meyakini bahwa imam mereka ada 12 dan semuanya memiliki mukjizat seperti Nabi dan telah diberi wasiat dan rahasia ajaran Islam. Sehingga mereka berhak menerangkan ajaran Islam yang orang lain tidak diberitahu menjadi rahasia mereka sendiri. Mereka yakin bahwa para imam itu dititipi ilmu oleh Rasulullah SAW untuk menyempurnakan syariat. Tidak ada perbedaan antara imam dengan Rasulullah SAW kecuali bahwa Rasulullah SAW menerima wahyu. Para imam itu diyakini berada pada derajat ma`shum yang tidak mungkin berdosa dan terpelihara dari segala kesalahan, kelalaian serta dosa-dosa baik besar atau kecil. Mereka meyakini bahwa imam mereka yang ke-12 sedang ghaibah (menghilang) ke dalam sebuah gua di Samara (surro man ra`a), sebuah kota kecil di Iraq dekat sungai Tigris utara Baghdad. Suatu hari nanti imam ke-12 itu akan muncul lagi (roj`ah). Karena itu sekarang setiap ba`da maghrib mereka rajin berdiri di pintu gua bahkan menyediakan sebuha kendaraan untuk pergi. Perbuatan ini terus berlangsung tiap malam. Harapan mereka imam itu akan datang untuk memenuhi keadilan sebagaiman bumi sedang dipenuhi dengan kekejaman dan kezoliman. Imam ke-12 ini juga akan melacak lawan-lawan syiah sepanjang sejarah. Dalam menyebarkan paham yang sesat seperti ini senjata andalan mereka adalah TAQIYAH, yaitu siasat berbohong dan menyembunyikan sementara inti ajaran mereka dan identitas aqidah mereka sehingga orang mengira apa yang mereka ajarkan itu sesuai dengan aqidah mereka sebelumnya. Saat orang-orang itu sudah percaya dan bertambah taat, baru identitas asli ajaran mereka dibenamkan. Karena itu semua fakta yang kami sampaikan disini pasti tidak ada satupun yang mereka akui. Mereka punya seribu satu macam cara untuk mengingkari fakta-fakta ini, karena mereka punya prinsip taqiyah. Sehingga orang-orang awam yang sebelumnya sudah paham tentang sesatnya syiah akan berbalik menjadi pembelanya. Senjata ini benar-benar ampuh untuk memperdaya generasi muda Islam yang ilmu sejarahnya dangkal dan wawasannya sempit. Salah satu daya tarik mereka untuk mencari pendukung adalah ¡®fasilitas¡¯ kawin mut`ah atau kawin kontrak. Hakikatnya tidak lebih dari pelacuran yang diberi kemasan agama. Dengan beragam dalih, mereka menghalalkan zina seperti ini. Memang sejarahnya, Rasulullah SAW pernah membolehkan nikah mut`ah, namun setelah itu dilarang secara total dan hukumnya dinasakh. Semua shahabat dan para ahli ilmu sepakat bahwa mut`ah itu telah diharamkan Allah selamanya. Oleh kelompok syiah, nikah seperti ini dibolehkan dan menjadi salah satu pesona dan daya tarik buat mereka yang suka zina. Mereka juga memiliki hari raya yang lebih mereka hormati dari Idul Fithri dan Idul Adha, yaitu hari raya Ghadir Khom. Selain itu mereka juga mengagungkan hari raya Nairuz, hari raya agama majusi penyembah api. Juga hari raya tanggal 9 Rabiul Awwal sebagai hari raya ¡®bapak¡¯ mereka, Abu Lu`lu`ah. Abu Lu`lu`ah adalah orang yang berhasil membunuh Umar bin Al-Khattab. Kebencian mereka kepada para sahabat Nabi dan mengatakan mereka berdosa telah merampas khilafah dari Ali bin Abi Thalib. Sebagian syiah malah mengkafirkan para shahabat Nabi radhiyallahu anhum. Sebaliknya mereka mengagungkan ahlul bait atau keluarga nabi. Ahlul bait ini adalah para shahabat nabi yang utama, tetapi oleh kelompok syiah ini, ahlul bait diseret-seret masuk dalam perangkap aqidah mereka, sehingga seolah-olah antara ahlul bait dengan shahabat yang lain ada pemisah dan permusuhan. Padahal di zaman para shahabat, syiah yang sesat seperti ini belum lagi muncul. Bahkan Hasan dan Husein serta Ali Zaenal Abidin yang sering mereka klaim sebagai imam mereka pun tidak tahu menahu dengan ulah syiah sesat ini. Syiah yang sesat ini baru muncul jauh di kemudian hari setelah generasi para shahabat dan sebagian tabi`in telah meninggal. Aktor intelektual di belakang syiah sesat ini tidak lain adalah Abdullah bin Saba` yang dalam sejarah otentik terbukti menjadi provokator di wilayah- wilayah Islam. Dia telah menyebarkan fitnah, berita bohong, kebencian kepada para shahabat serta paham yang merusak. Dia tidak lain adalah yahudi Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Identitas keyahudiannya sangat menonjol ketika dia mengajarkan tentang imam yang akan muncul (raj`ah), tidak mati, menjadi raja di bumi, mengathui apa yang tidak diketahui orang dan lain-lain. Ini tidak lain berakar pada paham yahudi, agama yang dipeluknya masih diakuinya bahwa selama ini dia masih beragama yahudi.

Sumber :http://www.kampus-info.com/2012/08/pengertian-aliran-syiah.html

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu